 | sirizka | Sep 19, 2008 |
simple person living her simple life. mother of 2 wonderful & adorable children. striving to be a better person everyday. Manusia adalah makhluk sosial yang memerlukan makhluk lain untuk hidup di dunia. Jamaknya dalam interaksi antar makhluk tersebut timbul hubungan dan sebagaimana layaknya hubungan antara 2 makhluk atau lebih, akan ada pasang surut. Di awal akan terjadi fase euforia, jatuh cinta, infatuation, tergila-gila dan dimabuk asmara. Semuanya terlihat indah. Seiring waktu berjalan, kedua belah pihak akan menunjukkan pribadi yang sebenarnya yang kemudian akan menimbulkan friksi, baik besar maupun kecil. Sampai akhirnya, meminjam istilah Dewi Lestari, hubungan tersebut memasuki batas waktu kadaluarsanya ketika akhirnya harus berpisah. Ketika perpisahan tersebut terjadi, masing-masing akan merasakan patah hati, kesedihan yang mendalam, mungkin penyesalan. Kemudian, sesuai dengan hakikat dunia yang bundar dan roda kehidupan, hidup terus berjalan dan banyak yang kemudian kembali jatuh cinta, menjalin hubungan, dan seterusnya.
Hubungan, perasaan 'cinta' dan patah hati ternyata tidak hanya berlaku secara untuk urusan personal tapi juga urusan profesional.
Urusan profesional juga sama siklusnya. Dimulai dengan saling taksir. Entah perusahaannya dulu yang menaksir karyawan idaman atau karyawan yang jatuh bangun berkali-kali melamar dengan segala cara untuk bisa bergabung dengan perusahaan idaman. Kemudia masuk "honeymoon period", yaitu di tahun pertama bekerja. Siklus kemudian akan pasang surut. Karyawan yang mulai kecewa dengan perusahaan yang tak seindah bayangannya, perusahaan yang mulai kecewa juga dengan semangat kerja karyawan yang menurun sampai akhirnya kadaluarsa, entah lewat PHK (pemutusan hubungan kerja) atau karyawan yang memutuskan untuk berhenti.
Saya terus terang bukan orang yang menjalin cinta terlalu dalam dengan perusahaan tempat saya bekerja. Cukup sebatas simbiosis mutualisma. Kalau diibaratkan hubungan personal mungkin hanya pacaran yang saling menyayangi tanpa cinta berlebihan sampai ke tahap tidak bisa hidup tanpanya. Maka saya sangat kaget ketika ada salah seorang kolega yang rusuh membuat huru-hara di media sosial tentang keburukan perusahaan setelah kecewa dengan manajemen perusahaan. Perumpamaannya seperti seseorang yang patah hati berat setelah dibohongi oleh pacarnya kemudian memutuskan untuk mengungkapkan semua kejelekan pacarnya itu kepada dunia... yang belum tentu peduli.
Entah apa yang memicunya, tiba-tiba kolega ini, sebut saja Bejo, mengirim private message di Facebook kepada koleganya (termasuk saya) yang isinya bahwa dia mempertimbangkan untuk mengundurkan diri dari perusahaan. Dari sinilah drama dimulai, di media sosial dia membeberkan apa yang dia rasakan sebagai ketidakadilan yang dilakukan perusahaan kepada dirinya dan kolega-kolega yang lain. Kebanyakan rekan lain menanggapi dengan menasihati untuk tidak bermain-main dengan penyebaran informasi melalui media sosial, dampak yang mungkin akan diterimanya jika berhadapan dengan perusahaan besar, dan lain-lain. Alih-alih melunak, Bejo makin berapi-api dan tanpa pandang bulu 'menembak' semua yang mencoba menasihatinya. Akhir cerita, beliau mengundurkan diri dan menjadi pengusaha.
Ada lagi Entin, kolega saya di perusahaan yang sebelumnya. Mengabdi bertahun-tahun, dengan karir yang mandek dan setiap hari menggerutu tentang kejelekan perusahaan dan manajemennya. Sungguh lelah mendengarnya dan saya yakin dia pun lelah dengan keadaannya.
Melalui Bejo saya melihat bahwa ada orang yang memang amat sangat mencintai pekerjaannya, perusahaan tempat dia bekerja dan mengabdi dengan penuh totalitas. Semestinya segala yang baik bisa dicontoh dari kalimat di atas, tapi kenyataannya tidak. Kerja itu bukan segalanya dalam hidup dan perusahaan itu bukan suami atau istri yang layak menjadi tempat untuk mengabdikan diri. Intinya sederhana, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.
Melalui Entin, saya belajar bahwa segala yang dipaksakan itu tidak baik. Entin memaksakan hubungan yang sudah tidak kondusif semata-mata karena tidak mau beranjak ke tempat lain.
Melalui keduanya saya belajar bahwa saya dengan perusahaan tempat saya bekerja telah menjalin sebuah hubungan yang seharusnya saling menguntungkan kedua belah pihak. Ketika ada yang dirugikan, apa susahnya untuk mengakui bahwa hubungan ini sudah kadaluarsa dan saatnya untuk "move on" dan mengakhirinya dengan indah. Tidak saling mencaci atau menjelekkan cukup saling menghormati dan saling mengenang. Biar bagaimanapun suatu ketika saya dan keluarga saya pernah menikmati hidup dari gaji yang mereka berikan. Berhubung pengalaman ini masih segar banget di ingatan, saya akan posting mitos-mitos yang bertebaran seputar kehamilan dan melahirkan. Bukan mencoba meluruskan, cuma berbagi pandangan :)
1. Hamil itu menyenangkan Ini 50:50. Menyenangkan karena semua perhatian tertuju pada kita. Mulai dari orang-orang terdekat sampai orang tak dikenal. Senang dong diperhatikan? Well, buat saya yang bukan orang yang ramah tamah perhatian dari orang-orang terdekat menyenangkan, tapi orang yang tidak dikenal weitsss entar dulu ya, tergantung mood. Sebatas dibukakan pintu, diberi tempat duduk is fine. Basa basi nggak penting "hamil ya mbak? berapa bulan anak keberapa" pun masih bisa saya tolerir walau sering malas karena saya cenderung malas berbasa basi dan tampang saya jauh dari ramah tapi teteuppp... magnet perut mancung sepertinya sangat kuat. Yang diluar batas adalah dihampiri orang tak dikenal yang langsung mengelus-elus perut buncit saya sambil ngajak ngobrol, walau yang melakukan adalah ibu-ibu paruh baya tetap saya merasa terganggu dan merasa ingin menjitak kepala mereka. Bagian yang tidak menyenangkan lainnya adalah segala ketidaknyamanan terkait bawaan perut yang makin lama makin besar. Mulai dari mual-muntah di awal kehamilan, gatal-gatal, pegal-pegal sampai sesak nafas. Jangan lupa diantisipasi juga perubahan mood yang kadang ekstrim karena pengaruh hormon. Ini yang paling susah untuk di rem, jadi peringatkanlah orang-orang di sekitar Anda supaya berhati-hati :P
2. Morning sickness = mual di pagi hari Kenyataannya, tamu yang satu ini tidak selalu tepat waktu datangnya pagi-pagi. Sering siang, atau bahkan sore. Sialnya lagi, ada yang kedatangan berkah ini sepanjang hari selama berbulan-bulan. Intinya siap-siaplah dan sebisa mungkin kenali trigger yang memperparah kondisi supaya dapat menghindari serta istirahat yang cukup. Resep yang diberikan oleh sepupu saya dan manjur untuk mengurangi morning sickness saya adalah menempelkan koyo di pergelangan tangan. Caranya adalah potong kecil koyo (1x1 cm) tempelkan di titik tengah tangan, kira-kira 3 jari dari pergelangan tangan.
3. Kalau melahirkan normal itu enak, sakitnya cuma sebentar. Sesudahnya nggak sakit sama sekali Garis bawahi kata sama sekali di sini ya karena itu sunggu menipu. Siapa bilang sesudahnya nggak sakit?? Bayangin dari lubang sekecil itu keluar kepala bayi berdiameter 30cm (maafkan bahasa saya). Mana bisa sih enggak sakit. Saya tertipu habis-habisan sebelumnya dan kemudian bertekad untuk meluruskan mitos ini (tsahhh) supaya tidak ada lagi korban penipuan berikutnya *mulai lebay Jangan tanya saya bagaimana sakitnya sesudah melahirkan caesar karena 3 kali saya melahirkan semuanya normal. Menurut mereka yang sudah pernah merasakan keduanya, melahirkan normal pemulihannya jauh lebih cepat yang kemudian menimbulkan persepsi bahwa sesudahnya painless. Melahirkan normal sakitnya cuma sebentar. Menurut standar siapa sebentar? 3 kali melahirkan proses yang saya lalui bervariasi antar 6 sampai 18 jam yang diisi dengan mules hebat sampai semua orang pengen saya gampar rasanya. Sebentar? Buat saya itu adalah 18 jam terpanjang dalam hidup saya. Kemudian ditambah dengan masa pemulihan luka jahitan yang memakan waktu kurang lebih 1 minggu. Selama itu ketidaknyamanan berlangsung terutama saat harus melakukan ritual buang hajat & berjalan, selebihnya masih bisa ditolerir.
4. Nanti habis melahirkan badan kurus lagi kok langsung Jangan harap ya saudari-saudari karena kalau merasa nafsu makan meningkat waktu hamil, tunggu saatnya menyusui. Nafsu makan akan naik berlipat-lipat dari waktu hamil. Jadi buat yang berencana ASI eksklusif, saran saya, sembunyikan dulu timbangan untuk 6 bulan ke depan kalau tidak ingin nelangsa menatap angkanya.
Selebihnya, it's all about the joy of being a mother. Menatapnya tertidur pulas dengan damai di pangkuan. Tidak akan ada kata-kata yang bisa mengungkapkan bahagianya dan bangganya merasa begitu dibutuhkan oleh makhluk kecil itu.
12 bulan setelah segala jerih payah melahirkan dan menyusuinya, dia mengucapkan "mama" sebagai kata pertama yang keluar dari mulut mungilnya. Apalagi setelah bisa berbicara, di malam sebelum tidur dia mencium pipi Anda dan berbisik "I love you, mom" and it's all paid off......
Cheers to every mother out there :)
Masih berharap dia muncul di pintu depan dengan tas kerja dan pegangan seperti biasa dia bawakan Masih berharap ketika membuka pinta kamar ada sosoknya terbaring, lengkap dengan suara dengkurannya...Kemudian dia melirik melihat saya masuk dan minta kecupan selamat malam Masih berharap ada SMS darinya, menanyakan hari saya atau mengajak bertemu untuk makan siang Masih berharap dia menemani saya makan malam di ruang makan sambil mendengar keluhan tak penting saya Masih berharap suatu saat dia kembali berdiri di depan pintu, merentangkan tangannya dan berbisik "Remember, I love you" Again tergoda buat ikutan bikin gara2 baca postingannya Nanda. Resolusi tahun ini nggak bakal panjang-panjang, hidup udah ribet, nggak pengen bikin tambah ribet dengan target macem2 1. Memperbaiki kualitas ibadah fardhu. Fardhu aja dulu deh gw rebesin, yang sunnahnya nanti Insya Allah menyusul. Solat tepat waktu, nggak bolong2 gara2 ketiduran. Berhubung lagi hamil lagi, pengennya bisa khatam Qur'an sebelum lahiran bulan Agustus. Niat umroh terpaksa digeser ke tahun depan sesudah melahirkan 2. Punya lebih banyak waktu buat keluarga. Suami, anak2, mama & adik. Harus lebih cerdas lagi time management karena si kecil yg ketiga bakal nongol, otomatis irisan waktu dibagi lebih banyak. 3. Hidup lebih sehat. Less junk food, diet gorengan, more exercise. Target naikin berat badan pastinya tercapai gara2 hamil jadi nggak perlu masuk daftar target. Habis melahirkan semoga bisa bertahan berat badan di angka tertentu supaya nggak dikomplen kekurusan lagi. Semoga penambahan lemak & ketebalan daging di daerah-daerah tertentu bisa dipertahankan usai melahirkan sehingga badan jadi lebih bervolume, tidak mirip dengan badan siswi SMP. 4. M.e.n.a.b.u.n.g!!!! Enuff said Selebihnya, saya optimis tahun 2011 pasti lebih baik dari 2010. I lost my father last year, nothing can top that jadi 'deritanya' sudah pol di tahun lalu. Harapan saya terutama agar dilancarkan proses kelahiran anak ketiga nanti & supaya adik saya bisa lulus kuliah pertengahan tahun ini. Amiin Tiap mendengar atau melihat musibah, sebagai manusia, sebagai makhluk sosial, reaksi normal yang timbul adalah empati. Rasa ikut sedih, ikut berduka, ikut terluka. Kadang lengkap dengan tetes air mata. Kalau yang melihat atau mendengar saja meneteskan air mata. Apalagi yang mengalami. Mereka yang menanggung beban musibah dan derita itu. Berat pasti dada membawa sedih di hati. Ditambah pula dengan komentar "Jangan ditangisi! Jangan menangis! Harus ikhlas!". Lebih dari komentar, semua perintah dan suruhan tanpa ada solusi jelas bagaimana menghilangkan rasa sedih dan beban yang rasanya menghimpit dada. Membantukah? Jelas tidak! Yang terjadi malah emosi terpendam berakibat pada penyakit fisik yang akan menggerogoti badan. Saya percaya segala sesuatu dalam hidup ini adalah proses. Proses kelahiran, proses jatuh cinta, proses memaafkan, proses melupakan. Ikhlas, juga sebuah proses. Jangan minta anak yang baru 3 jam yang lalu diberi kabar ayahnya meninggal untuk ikhlas dan tidak menangis. Kecuali dia anak durhaka yang seumur hidup bermusuhan dengan ayahnya, biarkan dia menangis. Jangan jadi alergi dengan airmata. Tidak ada yang salah dengan air mata. Air mata kesedihan mengandung racun yang lebih baik dikeluarkan dari tubuh penderitanya (I actually read this in Republika sometime ago). Menangis bukan berarti dia tidak ikhlas, mungkin dia belum ikhlas. Di saat itu, di detik itu dia belum ikhlas melepas kepergian ayahnya. Menangis adalah ekspresi perasaannya. Ekspresi kesedihannya. Ketika sudah puas menangis, dia akan lega. Dia akan mengikhlaskan kepergiannya. Kapan? Cukup dia dan Tuhan saja yang tahu.  | Papa | Nov 2, '10 2:02 AM for everyone |
Setiap anak kecil pasti menganggap orang tuanya pahlawan yang immortal. Manusia super hebat yang tidak akan pernah mati, yang akan selalu ada kapan pun mereka butuh. Saya juga begitu. Apalagi kepada Papa. Saya menganggap dia pahlawan berbaju besi. Kuat. Hebat. Tapi tetap bersahaja dan selalu membuat saya tertawa. He did live up to the expectation. Pria pintar dengan selera humor tinggi. Dia wujud dari impian saya. Di mata saya, dia sempurna. Idola. Tidak tertandingi. Melihat dia sakit dan menderita sejak awal Agustus lalu, hati saya pecah berkeping-keping. Tiap dia meringis kesakitan, saya menahan tangis. Dalam hati saya berdoa, kalau Tuhan mengijinkan bagilah rasa sakit itu kepada saya supaya dia tidak merana seperti itu. Tiap kali dia mengucap lelah dengan sakitnya, saya selalu memarahinya. Menggebu-gebu saya semangati supaya dia bangkit dari sakitnya. Saya pun selalu optimis akan melihatnya pulih. Sehat kembali seperti sedia kala. Sabtu, 23 Oktober, dengan niat sepenuh hati saya berdandan cantik menengoknya di rumah sakit karena dia sangat apik dan memperhatikan penampilan. Paling benci melihat saya kusut dan awut-awutan. Dengan rambut yang di-blow rapih, kaki yang licin selesai saya epilasi. Entah kenapa saya merasa harus tampil cantik hari itu, walau ketika masuk ruang ICU dia tetap terpejam dan saya hanya mencium keningnya. Minggu siang ketika dalam perjalanan setelah menerima telfon Papa kritis, dalam hati saya membatin tidak akan memaksa Papa untuk bertahan dan sembuh kalau semua itu hanya memperpanjang penderitaannya. Saya merasa bersalah 'menahan' dia selama ini karena egoisme saya yang tidak mau ditinggal olehnya. Terbukti Tuhan mendengar bisik hati saya. Papa meninggal dunia pukul 13.22. Selamat jalan, Papa, selamat beristirahat dengan tenang tanpa derita sakit yang berkepanjangan. You will always be my hero......... "Chik, Oma Joan mau jenguk Papa hari minggu. Mau dimasakin apa?" "Rendang paru deh un" "Sip. Ntar uni bilangin ya. Sampe ketemu Minggu" Di atas adalah secuplik percakapan bbm antara saya dengan salah satu Tante saya. Ketika menceritakan itu kepada ibu, saya diomelin. Saya dinilai merepotkan. Kali lain, ketika ibu mertua hendak berangkat pulang kampung ke Padang, beliau bertanya kepada saya dan adik ipar, "Pada mau oleh-oleh apa?". Sementara adik ipar mesem2 menjawab "Apa ajalah mam", saya lantang menjawab "Songket dong mam." Adik ipar menyikut saya, "Songket kan mahal, berat, ribet". Saya lempeng, "Lha kan ditanya, nggak nyuruh beliin. Dibeliin sukur, nggak juga nggak apa-apa". Sepulang dari Padang, kami berdua dapat seperangkat songket. Saya tersenyum menang ke adik ipar. Ketika sahabat bertanya saya ingin kado apa menjelang ulang tahun, saya selalu menjawab sesuai keinginan saya. Kadang terkabul, kadang tidak. Jawaban saya juga, menurut saya sih cukup tahu diri. Saya tidak pernah minta dibelikan barang-barang super mahal. Kalau barang mahal pastinya itu jawaban dari pertanyaan suami, bukan sahabat. Kejadian yang sama sering, kalau tidak bisa dibilang hampir selalu terjadi pada saya. Orang bertanya sesuatu, saya jawab pertanyaannya, dan saya dianggap: merepotkan, tidak pantas, tidak tahu diri. Padahal yang saya lakukan cuma menjawab pertanyaan. Ibu pernah bilang, "mungkin kamu terlalu lama di luar, jadi nggak terbiasa adat basa basi orang Indonesia". Saya sih membela diri saya hanya menjawab pertanyaan dan mempermudah penanya supaya yang mereka belikan, yang mereka buatkan tidak terbuang sia-sia. Daripada saya mesem-mesem, padahal berharap dan ditafsirkan lain oleh penanya. Misal oleh-oleh, saya mesem-mesem dan ibu mertua membelikan kripik sanjay yang saya tidak suka. Uangnya terbuang percuma karena membelikan sesuatu yang saya tidak suka, saya juga jadi memendam kecewa. Atau masakan Oma. Kalau tidak saya jawab, Oma mungkin akan memasak sambel goreng ati yang saya benci. Tenaganya sia-sia. Makanan tidak termakan. Semua kecewa. Walaupun kecewa itu lebih sering terbungkus senyum basa-basi. Dengan menjawab apa yang saya mau, tercipta simbiosis mutualisma. Uang, waktu dan tenaga tidak terbuang sia-sia. Hati pun senang. :) Postingan saya sepertinya masih akan seputar dunia RS karena sekarang memang itulah fokus utama saya. Sejak tanggal 19 September, dua hari sebelum operasi Papa dipindahkan ICU. Mendengar kata-kata dipindah ke ICU saja sudah bikin bulu kuduk merinding. Kesannya mistis dan sepertinya sudah serius sekali orang-orang yang masuk ICU. Ditambah lagi dengan Mama yang panik sambil menangis mengabarkan. Sahabat saya yang kebetulan dokter menangkan, "ICU itu untuk menangani yang sudah parah dan mencegah yang belum parah dari menjadi parah". Untuk mencegah "drama" lebih lanjut, adik saya yang masih dalam perjalanan dari Singapura juga tidak saya beritahu. Dia hanya diminta untuk pulang hari itu juga dengan pesawat pertama. Hasilnya...saya harus membayar tiket Business Class untuk kepulangan adik karena itu satu-satunya tiket yang tersedia saat itu. Adik saya baru tahu Papa di ICU dari supir saya (yang heran ember bener!!) di perjalanan pulang dari bandara. Aura ICU memang beda dengan kamar biasa di RS. Bawaannya lebih tegang. Papa masuk di ICU B dengan 2 orang lainnya yang sudah lebih dulu ada. Jadwal operasi datang, Selasa jam 2 siang. Saya cuti lagi untuk menemani Papa (setelah sebelumnya cuti panjang karena ditinggal pengasuh anak-anak). Pagi-pagi kami sudah tiba di ruangan. Menemani Papa, Sembari ngobrol dan bercanda. Menjelang operasi, datang pasien baru, persis di sebelah tempat tidur Papa. Pasca operasi, entah operasi apa. Tiba-tiba terdengar suster berkata, semakin lama semakin kencang sambil mengguncang-guncangkan tubuh pasien itu "Pak Waluyo, Pak Waluyo..." berkali-kali. Yang kemudian terjadi adalah "kekacauan" semua suster dan dokter hilir mudik ke sana kemari. Para suster sempat "saling menuduh" siapa yang terakhir menangani pasien dan apakah pasien masih sadar ketika masuk ke ruangan. Ada yang memanjat tempat tidur berusaha memompa jantung Pak Waluyo. Setengah jam mendengarkan episode menegangkan, Papa dipindahkan ke ruang operasi. Beritanya Pak Waluyo akhirnya tidak tertolong dan meninggal dunia. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun. Operasi Papa berlangsung 5 jam. Setelah belasan jam menunggu proses kelahiran kedua anak saya, inilah penantian panjang yang mendebarkan dan menggelisahkan buat saya. Lima jam kami lalui dengan berteman majalah dan makanan serta doa yang tidak putus dipanjatkan (sempat terpotong tidur kalau untuk adik saya). Di tengah menunggu, sahabat saya dan suaminya datang menengok. Keduanya kebetulan dokter. Menjawab gelisah kami menunggu berjam-jam di luar mereka bilang "Kalau dokternya dari tadi belum keluar nemuin keluarga berarti operasinya lancar, sesuai yang diprediksi. Kalau ada tindakan lain yang perlu dia lakuin, dia pasti bakal keluar minta persetujuan keluarga dulu sebelum lanjut lagi." Sedikit menenangkan, apalagi dengan tentengan Starbucks dan sate padangnya. Selesai operasi, dokter menemui kami dan menerangkan jalannya operasi yang telah beliau lakukan. Karena dua dokter tadi masih bersama kami, jadilah ketiga dokter berdiskusi dengan "bahasa dewa" kedokteran yang cuma bikin kami melongo. Tentunya setelah itu mereka mengulang lagi penjelasannya dalam Bahasa Indonesia yang bisa dimengerti bersama. Intinya operasi berjalan lancar, 3/4 dari usus besar dan 50cm dari usus halus Papa dipotong karena kondisi sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Bahkan setelah itu, di ruangan ICU, suster menunjukkan potongan usus yang diambil. Persis satu kantong plastik. Pasca operasi Papa masih harus dirawat di ICU karena butuh pemantauan ketat. ICU artinya keluarga tidak bisa menemani dalam ruangan yang sama. Untuk keluarga yang menunggui disediakan ruangan seperti aula besar dengan 1 kamar mandi untuk beramai-ramai. Tiap kelompok penunggu kemudian akan mematok kavlingnya masing-masing di aula itu. Termasuk juga keluarga kami. Jadilah kami mengangkut kasur, bantal dan guling untuk ditempatkan di aula, berbaur dengan puluhan penunggu pasien lainnya. Berbagai drama tinggal di bangsal penunggu ini. Dimulai dari wc/kamar mandi yang dipakai puluhan orang dan tidak rutin dibersihkan. Aromanya tentu lumayan aduhai. Belum lagi TV plasma yang menggantung tanpa remote, AC yang arahnyatak menentu dan "paduan suara" malam hari alias dengkuran. Tante saya yang datang dari Bandung ikut menunggui kebetulan orangnya peramah dan sopan. Jadilah dia tahu semua cerita dari masing-masing kloter. Sempat bangsal tersebut surut isinya, tinggal 4 kavling. Mama berbisik "Semoga kosong karena banyak yang membaik terus dipindah ke kamar reguler ya. Bukan karena yang lain". Saya hanya mengangguk. Seminggu berkutat di bangsal, saya 2 kali berhadapan dengan keranda, 2 kali lagi mendengar berita duka. Tiap pesawat telfon bangsal yang menghubungkan nurse station dengan bangsal berdering semua orang sontak terdiam dan harap-harap cemas menunggu semoga bukan anggota keluarganya terkait karena biasanya dering telfon menandakan sesuatu terjadi di dalam ruang perawatan. Berita terakhir yang saya terima adalah Papa masih harus menjalani operasi lain lagi untuk mengangkat total ususnya karena operasi kemarin masih tetap mengakibatkan perdarahan. Artinya hari-hari di ICU masih panjang. Hari-hari menunggui papa di bangsal dengan beragam kisah dramanya. Cobaan masih belum menjauh. Semoga ini menjadi penghapus dosa kami, Ya Allah.... Banyak yang mungkin tidak familiar dengan terminologi di atas.Saya juga bukan dokter atau tenaga medis yang kompeten untuk menerangkan dengan detil tentang penyakit ini. Tulisan di bawah hanya sebatas berbagi pengalaman tentang penyakit yang saat ini sedang diderita oleh Papa. Mungkin ada manfaatnya. Colitis ulcerative adalah suatu penyakit yang mengenai saluran cerna khususnya usus besar - anus, yang ditandai dengan adanya ulkus atau borok. Biasanya penyakit ini bersifat menahun dan belum diketahui penyebab pastinya, namun diperkirakan faktor keturunan turut berpengaruh terhadap kejadian penyakit ini. Sifat menahun penyakit ini berbeda dengan infeksi jamur Candidia albicans pada saluran cerna, dimana infeksi jamur Candida albicans ini biasanya muncul jika kondisi pasien dengan daya tahan yang rendah, misalnya penderita diabetes mellitus (kencing manis), mengkonsumsi obat-2 yang menekan daya tahan tubuh jangka panjang dsb. dan biasanya mempunyai respon yang baik terhadap terapi anti jamur yang masih sensitif (misalnya Flucoral-fluconazole)** Empat bulan terakhir papa terbaring di RS Pusat Pertamina dengan diagnosa penyakit tersebut. Sebagai orang awam, saya dan keluarga pun 'berguru' untuk tahu lebih banyak tentang penyakit ini. 'Guru' utama kami tentunya adalah Mbah Google yang serba tahu segalanya. Guru kedua dan guru sesungguhnya adalah keluarga dekat yang kebetulan Ahli Penyakit Dalam - Gastroenterologi. Disebutkan memang tidak ada penyebab pasti penyakit ini. Faktor keturunan juga salah satu faktor dominan. Sejauh ingatan kami tidak ada anggota keluarga papa yang pernah didiagnosa menderita penyakit serupa. Setelah membaca lebih banyak tentang gejala penyakit ini sepertinya almarhumah Nini & almarhum Uwak mengalami gejala yang sama dengan yang dialami Papa tapi memang mereka tidak pernah memeriksakan lebih lanjut karena lebih fokus dengan penyakit lain yang diderita. Nini pernah kena herpes dan setelah sembuh pun terus-terusan mengeluh perutnya sakit dan tidak nyaman, tapi beliau selalu menolak diperiksa dokter karena takut. Nini akhirnya meninggal karena stroke. Uwak sempat terkena stroke dan masuk ICU berminggu-minggu, sebelum meninggal juga menunjukkan gejala yang sama dengan Papa; diare dengan darah (lebih tepatnya darah semua) sebelum akhirnya meninggal karena stroke juga. Faktor lainnya, seperti juga penyakit yang sepertinya semakin banyak ragam jenisnya sekarang ini, adalah pola makan yang minim serat. Papa bukan tipe yang makan dipinggir jalan atau sejenisnya. Makannya tertib dan terjadwal. Asupannya pun terkontrol karena sering bermasalah dengan kolesterol. Tapi untuk sayuran memang beliau kurang doyan. Sayur yang selalu disantapnya seputar sayur asem dan sayur lodeh. Selebihnya makanan protein dan karbohidrat. Adapun Papa, gejala awalnya adalah sariawan yang tak kunjung hilang. Pindah dari satu titik ke titik lain di mulutnya. Kemudian menjadi parah dengan diare. Awalnya hanya 3-4 kali sehari, pada puncaknya, Papa diare 8-10 kali. Lainnya adalah sakit yang luar biasa setiap habis makan. Seperti perutnya berjuang mencerna setiap butir makanan yang masuk. Variasi lain dari penyakit ini adalah tidak buang air besar selama berhari-hari (bahkan sampai hitungan bulan!). Penyakit ini juga merupakan perpanjangan dari wasir/ambeien yang tidak tertangani kemudian lukanya menyebar dan naik ke atas, mengenai usus besar. Mata rantai terakhir dari penyakit ini adalah kanker usus besar (colon cancer). Penanganan setelah pasien terdiagnosa dengan colitis ulcerative adalah dengan obat-obatan, dalam kasus Papa yang terus menerus diare (bahkan sampai keluar darah dan terakhir darah semua) yang utama adalah menjaga supaya tidak dehidrasi (kekurangan cairan) dan menstabilkan keadaan umumnya (tekanan darah, kadar hb, dan lain-lain) lewat transfusi dan obat-obatan. Pilihan terakhir jika obat-obatan sudah tidak mampu meredam laju perdarahan, adalah dengan mengangkat usus besarnya. Yang diangkat adalah bagian-bagian yang luka dan sudah tidak dapat dijahit dan diobati lagi. Kemungkinan terburuknya adalah mengangkat seluruh usus besarnya. Kemungkinan lain jika masih ada bagian yang dapat berfungsi dengan dijahit (istilahnya di-staples) dan menyambung dengan sisa usus yang berfungsi. Bisakah orang hidup tanpa usus besar? Menurut dokter bisa. Fungsi usus besar hanya sebagai 'terminal' penampungan kotoran sebelum dikeluarkan lewat anus. Fungsi utama penyerapan makanan ada di usus halus. Dari cerita kanan kiri juga ada ayah dari teman kerja saya yang diangkat usus besarnya karena ada tumor dan sampai sekarang Alhamdulillah masih sehat walafiat dan dapat beraktifitas dengan normal. Cerita selengkapnya tentu menunggu nanti pengamatan saya terhadap Papa pasca operasi. Terapi non-medis atau pengobatan alternatif yang dapat dilakukan adalah terapi air sagu: 1. Ambil segelas air putih biasa (tidak dingin dan tidak juga panas) 2. Masukkan 3 sendok makan Tepung SAGU. 3. (Optional / boleh tidak, boleh juga iya) Masukkan gula jawa ( Sesuai Selera) 4. (Optional / boleh tidak, boleh juga iya) Masukkan garam sesuai selera, untuk penyedap saja. 5. Minum deh. Terapi ini diambil dari internet juga dari sharing penderita colitis ulcerative lainnya. Inti dari semuanya adalah bahwa sehat itu mahal. Sakit juga jauh lebih mahal. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Mari kita semua mulai menerapkan pola hidup sehat. Minum air putih 8 gelas sehari, makan makanan berserat, mengurangi konsumsi junk food dan makanan yang digoreng, olah raga. Berat. Tapi daripada terlanjur terkapar di rumah sakit. Operasi rencananya akan dilakukan besok pagi jam 8. Mohon doanya agar semua berjalan lancar. ** Sumber: Health Consultation - Kalbe Medical Portal http://www.kalbe.co.id/index.php?mn=int&tipe=consul&detail=11
Sejak bulan Juni 2010, rumah sakit jadi tempat yang kerap kami kunjungi. Diawali dari Papa yang dirawat awal Juni karena colitis ulcerative yang dideritanya. Penyakit baru yang seumur-umur belum pernah saya dengar namanya. Intinya adalah luka pada usus & saluran pencernaan. Sepuluh hari dirawat di RSPP, Papa minta pulang dengan alasan sudah merasa baikan dan...bosan. Di usianya yang 61 tahun, Papa memang masih aktif bekerja, jadi saya bisa membayangkan 10 hari dikurung pasti menyiksanya. Selesai episode papa, akhir Juli, Alanna, anak kedua saya mendadak demam tinggi dan muncul ruam-ruam merah di badannya. Saya bawa ke dokter anak langganan di RS Puri Cinere dan diagnosanya adalah sejenis campak. Saat itu dianggap tidak perlu dirawat dan cukup diberi obat. Hari itu hari Selasa, 27 Juli, saya ingat betul karena bertepatan dengan ulang tahun Mama. Pulang dari dokter kami mampir ke Cinere Mall, membeli kue ulang tahun dan lilin untuk Mama. Esoknya keadaan tidak membaik. Pulang dari kantor, laporannya Alanna tidak mau makan, panasnya masih tinggi dan dia cuma mau minum susu. Ketika hendak makan malam, tiba-tiba dari hidungnya keluar darah. Being the freaky mum that I am (saya paling takut dengan darah, bikin saya lemas) saya langsung meluncur ke RS Puri Cinere lagi. Kali ini dokter langganan kami tidak ada. Di admission saya mendaftar ke "dokter anak yang nggak ngantri mbak, mana aja boleh". Singkat cerita, malam itu dokter memutuskan Alanna harus dirawat inap untuk mencegah dehidrasi dan bisa mendapatkan perawatan khusus. Dan hal yang paling saya takutkan pun terjadi, saya harus menemaninya diambil darah dan diinfus karena Harry masih dalam perjalanan dari Mangga Dua. Emak-emak cengeng inipun ikut menangis berlinang air mata melihat tangan mungilnya ditusuk jarum infus. Empat hari Alanna dirawat di RS. Empat hari penuh dengan putri kecil saya. Langka sekali karena Alanna lebih lengket dengan nenek-kakek nya ketimbang dengan saya, malam ketiga dia bahkan menangis kangen Aki-nya (Papa saya). Jadilah empat hari itu bonding time kami karena dia tidak mau diurus suster RS, hanya mau dipegang saya. Mandipun kalau tidak saat dia tidur, saya akan menggedongnya ke kamar mandi dan meletakkan di atas kloset supaya dia bisa tetap melihat saya. Seminggu kemudian, kembali 'giliran' Papa masuk RS. Papa jatuh di kamar mandi rumah ketika hendak bersiap ke dokter. Ternyata tekanan darahnya menurun drastis dan penyakitnya belum pulih benar. Sudah diduga, harus dirawat inap lagi. Papa sendiri sampai detik ini masih menjalani pengobatan rawat inap di RSPP dengan kondisi yang naik turun. Beratnya susut ke 45 kilogram jadi kurus kering keriput karena penyakit ini mengakibatkan saluran cernanya tidak dapat mencerna makanan dengan baik. Sepertinya Lebaran kali ini akan menjadi Lebaran pertama yang kami lewatkan di rumah sakit. Adik saya yang kuliah di Singapura kebetulan pulang liburan 2 minggu. Dia lebih banyak menemani Papa kemarin. RSPP punya jam besuk yang ketat, menyusahkan terutama bagi saya yang orang kantoran dan kondisi jalanan Jakarta yang sungguh sulit diprediksi. Saya jarang menengok Papa karena saya tidak tega. Laki-laki yang dimata saya dulu begitu gagah sekarang terlihat begitu ringkih dan lemah. Tidak dapat melakukan apa-apa kecuali berbaring. Bahkan (maaf) buang air pun harus diceboki Mama. Tiap menjenguk saya menguatkan hati, menahan diri agar tidak menangis di depannya dan sejauh ini masih berhasil. Selang 2 minggu Papa kembali diopname, Zeva, anak pertama saya mendadak demam tinggi ketika sedang jalan-jalan ke Senayan City. Sehari berselang demamnya tidak membaik. Hari kedua panasnya malah naik sesudah diberi obat. Trauma kejadian dia kejang ketika umur 2 tahun, kami langsung membawanya ke UGD RS. Singkat kata, Zeva pun harus dirawat inap. RS Puri saat ini penuh total. Satu-satunya kamar yang tersisa adalah kamar kelas II yang berbagi dengan 2 pasien lain. Harry menolak ditempatkan di kamar itu karena akan susah jika anak-anak ditempatkan beramai-ramai seperti itu, apalagi buat saya dan dia yang akan menuggui. Tengah malam itu, dia menelfon ke RS Brawijaya yang kebetulan masih punya 1 kamar kosong kelas VIP yang 1 pasien per kamar jadilah tengah malam buta kami borongan pindah ke Brawijaya. Kata orang ada hikmah di balik setiap cobaan. Saya menganggap episode bolak balik rumah sakit ini sebagai cobaan bagi keluarga kami. Hikmahnya dengan sakitnya anak-anak saya jadi meluangkan waktu lebih banyak dengan mereka. Dari hanya beberapa jam di hari kerja jadi 24 jam non-stop. Sakitnya Papa membawa hikmah saya jadi lebih mandiri. Tinggal menumpang di rumah orang tua, membuat saya cuek dengan hal-hal domestik seperti belanja dapur dan berbenah rumah. Untungnya lagi asisten rumah tangga kami sudah veteran dan terpercaya jadi dia hanya lapor kalau uang belanja habis. Soal menu makanan dia cukup kreatif memvariasikan menu sehari-hari dan bisa menjalankan tugas tanpa diminta. Absennya Mama di rumah membuat saya berlatih mengurus rumah. Peduli belanja dapur diluar makanan anak-anak, susu dan kudapan. Peduli beres-beres di domain lain selain kamar. Ikut rempong menyiapkan menu untuk buka puasa dan Lebaran nanti. Rencananya, setelah Lebaran kami akan menggelar acara doa bersama. Bisa dibilang untuk buang sial atau ruwat atau apa saja. Saran ini datang dari kakak ipar saya. Terdengar kuno tapi tidak ada salahnya untuk dijalankan karena tidak bertentangan dengan agama juga. Semoga setelah ini episode rumah sakit tidak perlu lagi kami jalani. Semua sehat wal afiat, aman, damai, sentosa. Amiin Pengalaman pertama saya bekerja di sebuah perusahaan distributor kosmetik dan parfum. Tiap kali ditanya orang kerja di mana, saya akhirnya harus menjelaskan perusahaan apa & bergerak di bidang bisnis apa, karena kecuali penanya berasal dari industri yang sama, dijamin halal orang tidak tahu menahu tentang perusahaan itu. Pindah kerja ke perusahaan yang sekarang, tinggal sebut namanya, orang langsung 'ngeh'. Jadilah sesi basi basi saya dengan kenalan baru jadi lebih singkat semenjak pindah kantor, karena tidak perlu menjelaskan panjang kali lebar kali tinggi tentang bidang usaha kantor saya. Pertanyaan berikutnya paling ke standar "di bagian apa kerjanya". Jawabannya pun pendek saja "marketing". Simpel. Nama besar perusahaan tempat saya bekerja ini ternyata, bak ibukota, menggoda pendatang baru. Paling standar adalah, tanya lowongan kerjaan atau jadi supplier. Bahkan ada temannya temannya teman saya yang ujug-ujug mengirim email dengan lampiran CV-nya tanpa ba-bi-bu memperkenalkan diri kepada saya. Dan kejadiannya tidak sekali dua kali tapi berkali-kali. Dalam hati memang merutuki manusia-manusia SKSD ini, tapi dalam hati juga berpikir mungkin saya bisa menolong dan jalan pintasnya adalah saya langsung meneruskan email 'jual diri' itu ke bagian HRD. Mungkin rejeki mungkin tidak, yang penting saya melaksanakan amanah. Kebetulan pekerjaan saya sehari-hari bergaul akrab dengan supplier. Pengalaman yang sering terjadi adalah supplier baru sering 'silau'. Mereka biasa mengiyakan semua persyaratan dan kemauan saya (yang terus terang seringkali ajaib) demi tembus jadi supplier. Mereka sering alpa mengukur kesanggupan produksi ataupun armada sumber daya manusia untuk menuruti kemauan Lara Jonggrang saya. Akhirnya adalah perselisihan yang tidak dapat dihindari karena bagi tim kami yang nomor satu adalah komitmen. Ketika di awal sudah dikomit bahwa barang dapat supply, maka tentu kami akan berpegang dengan komitmen tersebut. Pelajaran buat saya selain dari harus lebih hati-hati memilih supplier yang tidak silau dengan nama kantor ini, bagi pribadi juga pentingnya menjaga komitmen. Menepati janji. Ketika saya tidak bisa memenuhi sesuatu, lebih baik saya bilang terus terang bahwa saya tidak sanggup, daripada saya menyanggupi hanya untuk ingkar janji di kemudian harinya, reputasi saya jadi taruhan. Berbanding terbalik dengan pernyataan populer yang selalu didengungkan "don't judge a book by it's cover" buat saya penting juga menilai buku dari kulitnya. Buku di sini tentunya hanya perumpamaan. Perumpamaan bahwa kita tidak bisa menilai sesuatu atau seseorang hanya dari penampilannya saja. Saya sendiri ketika membeli buku akan menilai dari sampul dari ringkasan cerita di halaman belakangnya karena bukunya dibungkus plastik. Satu-satunya informasi yang tersedia ya itu tadi. Gambar di sampul depan dan secuplik ringkasan di bagian belakangnya. Sukseskah prediksi saya? 8 dari 10 buku yang saya beli terbukti menarik, oke, sesuai dengan selera saya dan sesuai dengan deskripsi yang diberikan. Sisanya? Yah begitulah. Tidak cocok dengan bayangan saya berdasarkan deskripsi terbatas yang tersedia. Menilai orang juga beda tipis dengan buku. Ketika baru kenal, otomatis kita punya penilaian tersendiri tentang seseorang yang terbentuk dari melihat penampilan atau gaya bicaranya. Bohong besar kalau tidak menilai orang dari 'sampulnya'. Tapi tentunya, 'sampul' ini jangan dijadikan satu-satunya bahan penilaian kita terhadap orang lain.Karena manusia lebih kompleks dari buku. Yang kita lihat adalah apa yang ingin diperlihatkan oleh orang tersebut. You only get to see what I want you to see. Untuk mengenal, tahu dan menilai seseorang adalah sebuah proses yang tidak pendek. Dan manusia bukan buku yang setelah diterbitkan maka tidak akan berubah. Manusia berubah. Time change, people change. Never think you know a person too well because you might not. Everybody has skeletons in their closet. Meet me, I'm a shopaholic I shop when I'm stressed because shopping gives me a relief. I tend to think the cure to every pain and every problem is a new pair of shoes... or jeans... or bright colorful handbags. The smell of new clothes or the sensation of the shoe leather against my foot is unbeatable. Signing credit cards empowers me But... Paying the bills by end of the month is a pain in the arse. I'm trapped in bills, bills and bills. They never seem to lessen, they just got bigger. Yes, it's a serious medical condition. Yes, I have problem But no, I can't stop Saya tak rela bayar pajak karena fasilitas umum tidak memadai. Transportasi umum payah, infrastruktur apalagi. Jalan lebih banyak yang berlobang daripada yang mulus. Taman dan ruang terbuka bisa dihitung sebelah jari. Kakus umum baunya ampun-ampun. Biaya kesehatan mahal, air bersih langka, orang miskin masih ada di mana-mana. Sekolah reot, yang bagus...mahal. Saya tidak rela bayar pajak karena ketika saya nyalakan TV, anggota dewan yang dibayar dengan pajak yang saya setorkan tidur, bahkan absen sampai 10 rapat paripurna. 10 rapat paripurna! Bukan rapat biasa. Rapat paripurna yang membahas nasib bangsa saya. Selebihnya uang pajak saya dipakai jalan-jalan, pelesir ke luar negeri dengan dalih studi banding. Bandingannya apa, Pak, Bu? Aplikasinya mana? Seujung jari pun tidak terasa. Saya tidak rela bayar pajak karena saya tidak bisa merasakan kenikmatan pajak yang saya bayarkan. Saya tidak rela bayar pajak karena kelakuan anggota dewan yang katanya mewakili saya sebagai rakyat sungguh mengecewakan kalau tidak bisa dibilang memilukan. Saya tidak rela bayar pajak... dan saya yakin saya tidak sendiri. 
Java Jazz sepertinya mengikuti tradisi saya dan Harry untuk menggelar pertunjukan tiap tahun di bulan Maret, bulan anniversary kami berdua. Geer benerrr. Pada dasarnya saya suka menonton konser. Kenapanya tidak jelas juga. Suka melihat euphoria orang-orang dan suasana gegap gempitanya mungkin yang bikin saya doyan. Tahun ini saya semangat karena kedatangan om John Legend. One of my favorite! Tapi lutut melemas ketika tau harga tiketnya yang setinggi langit. Atas nama pengiritan untuk pos-pos pembelanjaan yang tidak perlu, kami sepakat nonton yang hari Sabtu saja karena hari Sabtu persis bertepatan dengan ulang tahun perkawinan kami yang ke-6. Memanfaatkan bonus axis buy 1 get 1 free ticket pula. Pengiritan besar-besaran! Saya membayangkan serunya bisa nonton John Legend dengan lagu pembukanya Used to Love You dan ditutup dengan Ordinary People-nya yang bikin meleleh. Tapi yah sudahlah... Bye mas John. Ternyata oh ternyata..... hari Kamis malam, Harry pamit pergi mengantar CD foto katanya. Saya pun duduk manis menunggu di rumah. Saat dia sampai di kamar saya pergi ke kamar mandi. Masuk ke kamar saya menemukan selembar kertas di atas bantal, saya buka isinya tiket Java Jazz. Saya tutup dan berjalan untuk menyimpannya di tas... tapi... tunggu dulu... saya buka dan baca sekali lagi tiket... Eh yang ini kok bacaannya JOHN LEGEND - SPECIAL SHOW SECTION A!!!!! Saya langsung histeris... Oh mas John.... eh salah, oh mas Harry, I love love love you! Jadilah kami nonton 2 hari berturut turut... hari Jum'at dengan planning ingin menonton RAN, John Legend dan Sheila Majid. Kenyataannya, jalanan super macet dan jalan yang super jauh dari depan ke dalam membuat kami kelaparan dan memilih makan dulu setibanya di JIExpo dan... langsung meluncur ke antrian John Legend. Konyolnya kami salah antri. Sempat jadi sarden di antrian section C sebelum ada yang teriak "A & B antrinya ke ujung!!!!"... Ada harga, ada rupa. Tanpa antri, langsung masuk ke ruangan adem... fyuhhhh.... Untuk pertama kalinya dalam kurun hampir satu dekade saya bernyanyi lagi lagu Indonesia Raya di concert hall JIExpo. I got goosebumps mendengar ribuan orang menyanyikan lagu itu. Dan..... pertunjukan John Legend sendiri persis seperti bayangan saya. Dibuka dengan hentakan lagu I Used To Love You dan ditutup dengan melankoli Ordinary People dengan catatan minor sound yang tidak oke, toh tidak mengurangi euphoria saya terhadap pertunjukannya. Next stop, Sheila Majid. Saya penggemar mbak yang satu ini. I don't really like anything Malaysia except for her hehehe.... Masih cantik, masih memukau, suaranya masih bening walau lagi-lagi sound di Hall A3 kurang oke. Di pertunjukan Sheila Majid ini kami merayakan pergantian tanggal 5 ke tanggal 6. Walau mimpi Sheila menyanyikan lagu Inikah Cinta tidak kesampaian, we had fun. Esoknya, kembali menyiapkan mental. Planningnya, nonton Maliq, Sandy Sandhoro dan Endah n Rhesa. Kenyataannya, kembali terlambat untuk Maliq. Cuma sempat nonton lagu terkahirnya, Pilihanku. Yang kata Harry, dia nyanyiin khusus nungguin kita dateng. Yeah right?! Akhirnya kami memilih nonton Diane Warren karena lagunya yang familiar. Untungnya pula, tempatnya di concert hall yang sama dengan John Legend kemarin tapi plus kursi. Umur yang semakin bertambah membuat stamina untuk mengikuti konser berkurang, dikit-dikit duduk jadinya. Plus saat nonton Diane Warren adalah kedatangan SBY yang ikut menonton dan lumayan bikin heboh. Again Indonesia Raya bergema, dihadapan Pak Presiden pula. Panitia membenahi sound sepertinya di hari kedua ini, kualitasnya jauh lebih baik daripada waktu John Legend kemarin. Diane Warren, atmosfernya santai, tidak jumpy. Penyanyi utamanya 2 orang penyanyi baru dengan suara yang keren. Prianya dengan suara tenor ala Il DIvo dan wanitanya dengan suara khas diva, mirip Celine Dion. Plus pula banyak bintang tamunya, ada Eric Benet, Sandhy Sandoro. Duduk dengan nyaman dan tenang. It was delightful. Setelah Diane Warren, yang ada kami kelaparan. Sesudah kenyang, malas lagi melihat antrian Glenn Fredly yang bak antri sembako, akhirnya... pulang aja deh  Java Jazz, it was delightful. Though, please work on the sound system, such a pity the performance wasn't geared with a good quality sound system. I had fun time with my lovely Harry. Love you b boo!! Do come again next year so I can have another fun moment!  | Syukur | Mar 22, '10 8:00 AM for everyone |
Lama sekali saya tidak mengisi multiply ini. Sampai rasanya kagok & tidak tahu apa yang harus ditulis. Ada beberapa rangkuman kejadian yang akan saya tulis di sini, sebagian lain mungkin disimpan untuk lain kali karena perbedaan topik yang bagai langit dan bumi. Saya mulai cerita ini dengan satu hal yang paling penting untuk digarisbawahi, yaitu saya bukan orang yang fanatik, tidak terlalu religius. Buat saya, agama, di luar dari ritual yang tidak perlu diperdebatkan lagi akan kewajibannya, adalah lebih ke bagaimana keseharian kita mencerminkan apa yang diajarkan oleh agama kita. Saya tergerak untuk menulis tentang syukur karena dua pengalaman yang menghampiri saya dalam waktu yang hampir bersamaan ini, nyambung tidaknya saya memilih untuk memaksa dia menjadi nyambung dan memberi dia benang merah cerita-cerita itu dengan syukur. Cerita pertama adalah tentang penyamarataan level grade atau gaji di perusahaan tempat saya bekerja. Soal kepulan asap dapur dimana-mana akan menjadi hal yang sensitif dan juga menarik untuk dijadikan bahan perbincangan, apalagi di seputar kantor. Dari dulu sudah santer beredar kabar bahwa di kantor tempat saya bekerja terjadi ketidaksamaan mengenai sistem penggajian. Bisik-bisik tetangga bilang departemen A royal memberi imbalan dari sisi gaji dan gred, departemen B minim gred royal gaji, dan seterusnya. Departemen saya konon di bawah standar departemen tetangga. Begitulah kurang lebihnya. Saya sendiri awalnya tidak mau terlalu ambil pusing. Saya bukan perempuan ambisius yang mengejar karier dan bertarget harus selevel GM di usia sekian, bergaji sekian, dan lain-lain. Saya malas ribet dan takut patah hati kalau perjuangan saya gugur di tengah jalan. Tapi ketika meeting pembahasan isu dapur ini berlangsung dan saya melihat semangat teman-teman seperjuangan yang begitu menggebu-gebu, saya jadi ikutan 'terbakar'. Jadi berpikir, level sama, disemprotnya sama, dituntut tanggung jawab yang sama, tapi kok gaji gue setengah gaji tetangge. Akhirnya, saya ikut berjuang. Memperjuangkan nasib saya dan tim saya bersama bapak-bapak kompor itu (note: apakah karena mereka kepala keluarga jadi lebih semangat? Kebetulan di angkatan ini saya perempuan satu-satunya). Mohon ampun, Ya Allah, bukan saya tidak bersyukur atas gaji yang kau berikan sekarang, tapi lebih memperjuangkan keadilan (tsahhh) dan menambah tabungan buat anak-anak, ijinkan aku menempuh usaha ini. Segala yang menjadi rejekiku pastinya sudah Kau atur, aku manusia hanya berusaha. Cerita kedua adalah seputar usaha saya mencarikan sekolah untuk anak sulung saya. Ada yang uang pangkalnya 60jt, bikin kepala senut-senut. Selebihnya kisaran kepala 2. Mahalnya pendidikan anak di Jakarta. Spesifik untuk SD saya dan suami sepakat akan mencarikan sekolah swasta Islam dengan fasilitas yang cukup lengkap, pertimbangannya perlu bekal agama dan tidak ingin dia ribet les ini itu diluar sekolah, cukup ikut ekskul yang diadakan di sekolah saja. Salah satu yang masuk radar kebetulan sekolah Islam yang ada di dekat rumah saya, menganut kurikulum Mesir yang mengajarkan tahfiz (hafal Qur'an) kepada muridnya. Saya pun googling tentang sekolah ini. Niat saya surut ketika membaca review dari seorang ibu di multiply. Dia menyatakan sangat puas dengan konsep pengajaran sekolah ini, ditambah karena putrinya diwajibkan berjilbab yang mempermudah tujuannya (sang ibu mengaku selama ini kesulitan menjilbabkan putrinya) dan hafiz Qur'an yang saya kutip "akan mengantarkan ayah ibunya mendapatkan syafaat di akhirat kelak sebagaimana janji Allah SWT". Entah kenapa saya merasa ini bagian dari eksploitasi anak. Maafkan bahasa saya yang terlalu lancang. Menugaskan anak untuk menghafal Qur'an agar kemudian kita sebagai orang tua diberi kemudahan di pengadilan hari akhir nanti rasanya kok seperti tidak tulus dan membuat hitungan matematika dengan Allah. Melakukan ini untuk dapat itu. Dan memberi beban yang berat sekali kepada anak kita, dengan pengharapan syafaat itu. Buat saya, pelajaran agama yang paling penting selain dia bisa membaca atau hafal Qur'an adalah penerapannya. Kesyukuran dia atas segala nikmat Allah. Saya tidak ingin anak saya menjadi fanatik seperti teroris itu. Saya tidak ingin dia hafal Qur'an dan merusak dunia karena mengejar akhirat. Atau shalat 5 waktu plus plus sunnah tapi juga mencerca orang dan menganggap dialah yang terbaik. Teroris sendiri buat saya adalah akibat ketidaksyukuran orang itu terhadap nikmat kebebasan agama yang sudah diberikan Tuhan, tamak ingin menguasai dunia. For me, it's just wrong. Diantara kebiasaan manusia untuk memperumit hal mudah, saya mencoba untuk selalu mengingatkan diri sendiri supaya cukup melihat inti semua permasalahan, mensyukuri hidup ini karena hidup itu dasarnya karunia PR dari Nanda. This is kinda good, coz it makes me think and reviewed everything I have in life. Hal terbesar yang udah dicapai di 2009? - Turning point dalam hidup ketika merasakan keikhlasan atas kuasa Allah dalam mengatur jalan hidup & segala pernak perniknya - Karir menuju ke arah yang lebih baik, paling tidak dari sisi finansial alias pendapatan Hal yang paling berkesan di 2009? Mobil baru!! Di usia 28 saya merasakan punya mobil sendiri . so it’s not really my car yet krn adalah jatah kantor yang baru jadi hak milik sepenuhnya setelah 5 tahun, but it’s closelah… mobil yang murni dari hasil kerja sendiri tanpa embel2 belinya karena jual mobil warisan ortu hehehe Hal yang menyedihkan di 2009? Tahun ini pertama kalinya saya merasakan keguguran. Mungkin belum rejeki kami untuk punya anak lagi. Yang lumayan menyedihkan adalah peristiwa di October 2009. Tapi bukannya sedih, peristiwa itu justru membuat saya sadar kenapa semuanya terjadi pada saya & what’s the purpose of my life… Ahaks!! Another thing, 2009 adalah tahun rumah sakit untuk kami sekelurga (dari pihak Harry). Juni 2009 saya keguguran. Oktober – Desember berturut-turut ayah mertua, adik ipar & ibu mertua masuk RS. Mertua dua-duanya untuk penyakit jantung dan adik ipar dugaan hepatitis. Perubahan yang signifikan di 2009? As I wrote earlier, keikhlasan, kepasrahan atau apalah itu namanya atas kehendak Allah yang mengatur hidup saya & jutaan makhluk lainnya… I was once a skeptic. I had a very cynical approach towards life. Kemudian saya berubah jadi orang yang lebih optimis. Terlalu optimis dan larut dalam bubble optimisme & dongeng. Tahun ini saya berubah. Tidak jadi skeptical lagi, at least not too skeptical. Motherhood softens me. I don’t want my children to be brought up with someone so timid. I chose to become more realistic aja. Next 'bout family, financial planning, and career…. FAMILY Sepertinya klise, semua perempuan bekerja pastinya pengen punya waktu lebih banyak untuk keluarganya. The best time in 2009 was hotel hopping only the 4 of us, minus nanny & driver FINANCIAL PLANNING Punya tabungan + instrumen investasi. Kami berdua shopaholic. Saya untuk fashion, Harry untuk gadgets. Menabung jadi sesuatu yang suliiiiiiitt sekali buat kami CAREER Buat karir, ga ada yg spesifik. One step at a time. I just moved into this role mid 2009, so I’m still in the learning phase. My father thinks I’m ready to take on bigger roles, I prefer taking on bigger paychecks hihihi Harapan di 2010 untuk diri sendiri,anak,suami dan pekerjaan? DIRI SENDIRI - Sholat tdk terlewat dan di awal waktu - Lebih mendekatkan diri pada Allah SWT di segala bentuk, tidak hanya lewat ibadah tp juga lewat hal-hal lain seperti bersyukur, toleransi, dll - Hidup lebih sehat dengan menjaga asupan makanan & olah raga minimal 2x seminggu. Sebagai orang yg kurus kering saya terus terang nggak pernah peduli soal asupan makanan. Tujuan hidup saya pengen naikin berat badan kok… tapi dengan banyaknya drama rumah sakit di th 2009, makin anehnya penyakit & kepasrahan kepada Allah, saya merubahnya. Nggak papa deh kurus, yang penting sehat. Kurus bukan berarti kolesterolnya rendah lho. Teracuni sama DVD2 konser, saya jadi pengen punya badan yang toned. Kayak Kelly Rowland atau Rihanna hehehe. So far sebulan terakhir saya sudah rutin olah raga, semoga berlanjut (belajar dari pengalaman yang selalu angot2an). ANAK Sehat...ceria...cerdas...selalu dalam lindungan Allah SWT. Keep laughing and smiling, kiddos. Those are my oxygen! SUAMI - Semoga sukses dengan usaha apapun yang dia jalankan. Abang sukses, adik senang *halah - Bisa lebih sabar menghadapi saya & anak2, saling menerima kekurangan & kelebihan masing2 - Lebih spontan & berinisiatif dalam merencanakan acara berdua. Nikah udah masuk th keenam nih, marilah kita explore hal lain di luar makan & nonton *as if we have many options in Jakarta yak KELUARGA Semoga keluarga besar saya & Harry selalu sehat walafiat...dilindungi dan disayangi oleh Allah SWT. Mimpi yang pengen diwujudkan di 2010.. Membangun rumah idaman!! Lunas ya Nda… buat yang baca dan mau ikutan ngisi, mariiii…… Hitung2 ngaca atau minimal ngintip spion ke 2009 supaya 2010 bisa lebih baik.
| |